Karena membeludaknya populasi kucing di Aoshima, tempat ini kerap dijuluki Pulau Kucing. (Reuters/Thomas Peter)
Jakarta, CNN Indonesia
--
Di salah satu pulau di selatan Jepang, Aoshima,
gerombolan kucing memegang kuasa. Di desa nelayan tersebut, kucing
dengan bebas keluar masuk rumah penduduk dan mengibaskan ekor di
sepanjang jalan.
Awalnya, leluhur kucing ini dipakai oleh para
nelayan untuk mengusir tikus yang menggerogoti kapal nelayan. Seiring
berjalannya waktu, kucing tersebut berkembang biak hingga jumlahnya enam
berbanding satu dengan manusia.
Seperti dilansir Reuters pada Selasa (3/3), lebih dari 120 kucing
membanjiri pulau dengan populasi manusia hanya 20 jiwa tersebut.
Penduduk Pulau Aoshima mayoritas adalah pensiunan perang yang hijrah
bersama gelombang migran pencari kerja setelah Perang Dunia Kedua.
Pada
1945, Aoshima merupakan rumah bagi 900 warga. Kini, tanda-tanda
kehidupan manusia hanya terlihat dari kedatangan pelancong harian dari
pulau sekitar ke tempat yang dikenal dengan sebutan Pulau Kucing itu.
Tanpa
restoran, mobil, toko, atau kios penjaja kudapan, Aoshima bukan surga
bagi turis. Namun, para pecinta kucing tidak akan protes.
"Ada
banyak kucing di sini, dan ada semacam penyihir kucing yang datang untuk
memberi makan kucing-kucing, sangat menyenangkan. Jadi, saya mau datang
lagi," ujar seorang turis bernama Makiko Yamasaki.
Membludaknya
populasi kucing di negara pencipta Hello Kitty ini memang tidak
mengejutkan. Kafe-kafe bertema kucing juga bertebaran di seantero Tokyo,
di mana banyak warga dilarang memelihara hewan tersebut di apartemen
mereka.
Awalnya kucing digunakan untuk mengusir tikus di pulau itu. (Reuters/Thomas Peter)
Namun, kucing di Aoshima dianggap berbeda. Mereka tidak terlalu pemilih.
Mereka dapat bertahan hanya dengan butir nasi, makanan berenergi, atau
kentang yang diberikan turis. Dengan absennya predator, mereka
berkeliaran tanpa rasa takut.
Di antara para turis yang
memanjakan kucing, satu perempuan lanjut usia justru mengusir binatang
tersebut dengan tongkat ketika mencoba masuk ke halaman belakangnya.
Memang
tak semua warga Aoshima menyukai kucing. Penduduk mengatur populasi
kucing agar tidak terlalu membeludak. Setidaknya 10 kucing sudah
dikebiri untuk mencegah lonjakan populasi.
Warga lokal juga kurang menyambut dengan baik kedatangan turis.
"Jika
orang datang ke pulau untuk menemukan kenyamanan bersama kucing, saya
rasa itu bagus. Saya hanya berharap itu dilakukan dengan cara yang tidak
merugikan orang yang tinggal di sini," ucap seorang nelayan bernama
Hidenori Kamimoto.
(stu)
Sumber : CNN & Detikcom

